Senin, 01 Oktober 2012

POLA KERJA SAMA TRI PUSAT PENDIDIKAN ISLAM


KATA PENGANTAR

Puji beriring syukur kami panjatkan kepada Ilahi Robbi yang telah memberikan karunia-Nya kepada penulis untuk dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat beserta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, para keluarganya, para shahabatnya, dan kepada umat yang mengikuti ajaran serta sunahnya.
Makalah yang penulis susun ini mengandung pokok bahasan mengenai pola kerjasama tripusat pendidikan Islam dengan sub-sub bahasannya yaitu unsur pokok pendidikan, peranan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam pendidikan Islam, dan peranan  keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam pendidikan islam
Makalah ini penulis susun sebagai salah satu tugas mata kapita selekta pendidian islam yang dibina oleh Drs. Khairuddin,MA
Meskipun makalah ini jauh dari kesempurnaan, kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pemakalah khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Akhir kata, penulis ucapkan Alhamdulillah dan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga segala kebaikannya mendapatkan balasan dari Allah SWT berupa pahala yang berlipat ganda, amin.


Medan, 28 september 2012


pemakalah






i.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar...............................................................................................................................
Daftar Isi.........................................................................................................................................
Bab  I..............................................................................................................................................
Pendahuluan...................................................................................................................................
Bab II..............................................................................................................................................
Pembahasan....................................................................................................................................
A.    Konsep tripusat pendidikan menurut pendidikan islam.....................................................
1.      Pendidikan keluarga..................................................................................................
2.      Pendidikan sekolah....................................................................................................
3.      Pendidikan masyaraat................................................................................................
B.     Peran keluarga, masyarakat, dan sekolah dalam pendidikan islam.....................................
1.      Peran keluarga dalam pendidikan islam.....................................................................
2.      Peran masyarakat dalam pendidikan islam................................................................
3.      Peran sekolah dalam pendidikan islam......................................................................
BAB III..........................................................................................................................................
Kesimpulan.....................................................................................................................................
Daftar Pustaka................................................................................................................................
ii.

BAB I
PENDAHULUAN
Sampai sekarang ini, pendidikan masih diyakini sebagai perantara terbaik dalam membentuk generasi ideal masa depan sekaligus instrumen guna menyelamatkan gerak maju sebuah bangsa. “Keyakinan” ini tetap ada tentu dengan lebih dulu mengesampingkan fakta di lapangan, bahwa produk pendidikan ternyata tidak dapat dijamin berperilaku terpuji. Bahkan hari ini, lembaga pendidikan telah menjadi “peserta baru” sebagai tempat korupsi. Pengenyampingan ini penting agar kita tidak psimis untuk ikut serta dalam mempercantik wajah pendidikan negeri ini.
Beragam sekali definisi Pendidikan dari para pakar. UU Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional pun mempunyai versi sendiri. UU yang dibuat tahun 2003 ini mendefinisikan Pendidikan sebagai “Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”
Menurut Doni Koesoema hakikat pendidikan adalah proses penyempurnaan diri manusia terus menerus yang berlangsung dari generasi yang satu ke generasi yang lain.[1] Tujuan pendidikan Islam, yakni melahirkan pribadi manusi yang sempurna, beragama, kreatif, produktif dan peka terhadap situasi lingkungannya. Manusia sepanjang hidupnya sebagian besar akan menerima pengaruh dari tiga lingkungan pendidikan yang utama tersebut, keluarga, sekolah, dan masyarakat dan ketiganya biasa disebut dengan tripusat pendidikan.
RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkanberdasarkan  tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang di kembangkan, sedangkan jenis pendidikan adalah kelompok yang di didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga.
Istilah tripusat pendidikan diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantora yang menggambarkan lembaga atau lingkungan pendidikan yang ada disekitar manusia – yang mempengaruhi perilaku peserta didik.. Yang dimaksud dengan tripusat pendidikan adalah setiap pribadi manusia akan selalu berada dan mengalami perkembangan dalam tiga lembaga pendidikan, yakni : Pendidikan dalam keluarga (pendidikan informal), pendidikan dalam sekolah (pendidikan formal), dan pendidikan di dalam masyarakat (pendidikan non  formal).
keluarga, masyarakat, dan sekolah. Ketiga lembaga ini secara bertahap dan terpadu mengemban tanggung jawab pendidikan bagi generasi mudanya. Kemudian, tripusat pendidikan ini dijadikan prinsip pendidikan, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan didalam lingkungan rumah tangga, masyarakat dan sekolah. Ketiga lembaga pendidikan tersebut hendaknya menjadi tangan panjang untuk membantu mencapai tujuan pendidikan Islam yang ideal, yaitu manusia yang berbudaya, beradap dan beragama.
















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Tripusat Pendidikan Islam
1.      Pendidikan keluarga
Kita telah merasakan bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama dalam masyarakat karena dalam keluargalah manusia dilahirkan, berkembang menjadi dewasa. Batas dan bicara pendidikan di dalam keluarga akan selalu mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya watak, budi pekerti, dan kepribadian tiap-tiap manusia. Pendidikan yang diterima dalam keluarga inilah yang akan digunakan oleh anak sebagai dasar untuk mengikuti pendidikan selanjutnya di sekolah.
Orang tua mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam keluarga terhadap  pendidikan anak, lebih bersikap menentukan: watak, budi pekerti, latihan keterampilan, dan pendidikan kesosialan. Selain daripada itu, penanaman nilai-nilai pancasila, nilai-nilai keagamaan dan kepercayaan kepada Allah SWT dimulai dalam keluarga.
Menurut Pendidikan Islam, konsep pendidikan keluarga adalah pendidikan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak atas dorongan kasih saying yang dilembagakan islam dalam bentuk kewajiban dan akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT. 
Orang tua adalah orang yang pertama memikul tanggung jawab pendidikan terhadap anak, secara alami anak pada masa-masa awal kehidupannya berada ditengah-tengah ayah dan ibunya sehingga dasar-dasar pandangan hidup, sikap hidup serta ketrampilan hidup banyak tertanam sejak anak berada ditengah-tengah orang tuanya.
Dalam pendidikan anak, Ibu dan Ayah masing-masing mempunyai tanggung jawab yang sama. Hadits Nabi yang menyatakan bahwa “Ibu adalah pengembala dirumah tangga suaminya dan bertanggung jawab atas gembalanya” sesungguhnya mengisyaratkan kerja sama Ibu dan Ayah dalam pendidikan anak, hanya saja terutama dalam lingkungan keluarga yang menuntut ayah lebih banyak berada diluar rumah untuk mencari nafkah dan ibu lebih banyak dirumah untuk mengatur urusan rumah.[2]
Dalam hal ini Allah telah berfirman dalam Al Qur’an surat At Tahrim ayat 6 yang berbunyi:
يايهاالذين امنوا قوا انفسكم واهليكم نارا.....(التحريم : 6)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa neraka….”.  (QS. At Tahrim : 6)   
Disinilah letak tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak-anaknya, karena anak adalah amanat Allah yang diberikan kepada orang tua yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban atas pendidikan anak-anaknya.
Sedangkan didalam hadits Nabi SAW secara jelas Beliau mengisyaratkan lewat sabdanya:
 كل مولود يولد على الفطرة وانما ابواه يهودانه اوينصرانه اويمجسانه
Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka orang tuanyalah yang dapat menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”.
Berdasarkan hadits tersebut jelaslah bahwa anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka mendidiknya adalah sudah menjadi tanggung jawab orang tua. Orang tua berkewajiban mendidik anak-anaknya dalam hal pendidikan agama dan umum termasuk didalamnya pendidikan ketrampilan, hal ini dimaksudkan agar kelak anak-anak itu akan dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akherat.
2.      Pendidikan sekolah
Konsep Pendidikan Sekolah menurut Pendidikan Islam adalah suatu lembaga pendidikan formal  yang efektif untuk mengantarkan anak pada tujuan yang ditetapkan dalam Pendidikan Islam. Sekolah yang dimaksud adalah untuk membimbing, mengarahkan dan mendidik sehingga lembaga tersebut menghendaki kehadiran kelompok-kelompok umur tertentu dalam ruang-runag kelas yang dipimpin oleh guru untuk mempelajari kurikulum bertingkat.[3]
Bertolak dari konsep tersebut pendidikan sekolah dalam mengantarkan dan mengarahkan anak untuk mencapai suatu tujuan pendidikan Islam, tidak terlepas dari usaha dan upaya guru yang telah menerima limpahan tanggung jawab dari orang tua atau keluarga. Sebab berdasarkan kenyatan orang tua tidak cukup mampu dan tidak memiliki waktu untuk mendidik, mengarahkan anak secara baik dan sempurna. Hal itu disebabkan karena keterbatasan dan kesibukan orang tua dalam memenuhi kebutuhan anaknya setiap saat.
Maka dari itu tugas guru dan pimpinan sekolah disamping memberikan ilmu-ilmu pengetahuan, keterampilan-keterampilan juga mendidik anak beragama dan berbudi pekerti luhur. Disinilah sekolah berfungsi sebagai pembantu keluarga dalam memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak didik, sekolah merupakan kelanjutan dari apa yang telah diberikan di dalam keluarga.
Hal ini dimaksudkan agar anak kelak memiliki kepribadian yang sesuai dengan ajaran islam yaitu kepribadian yang seluruh aspeknya baik itu tingkah laku, kegiatan jiwa maupun filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Allah SWT.[4]

3.      Pendidikan masyarakat
Pendidikan dalam Islam juga merupakan tanggung jawab bersama setiap anggota masyarakat. Sebab masyarakat adalah kumpulan individu-individu yang menjalani satu kesatuan, apabila terjadi kerusakan pada sebagiannya maka sebagian yang lain akan terancam kerusakan pula.
Masyarakat harus mampu mengaplikasikan konsep dan ketrampilan kedalam usaha-usaha yang nyata secara tepat dan benar, dan tidak boleh melakukan kesalahan-kesalahan ataupun membiarkan anggota masyarakat lain melakukan kesalahan.
Oleh sebab itu setiap individu hendaknya peduli terhadap kebaikan kesatuannya, setiap anggota masyarakat bertanggung jawab atas kebaikan lainnya. Dengan perkatan lain setiap anggota masyarakat bertanggung jawab atas pendidikan lainnya, tidak bisa memikulkan tanggung jawab hanya kepada orang tua dan guru , atau setidaknya bila melihat kemungkaran hendaknya mencegahnya sesuai dengan kemampuannya, sabda Nabi Muhammad SAW:
من راى منكم منكرا فليغيره بيده فان لم يستطيع فبلسانه فان لم يستطيع فبقلبه
وذالك اضعف الايمان. (رواه مسلم)
Artinya: “Barang siapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya apabila tidak mampu maka dengan lisannya dan apabila tidak mampu juga maka dengan hatinya dan yang demikian itu merupakan perwujudan iman yang paling lemah”. (HR. Muslim).
Menurut pendidikan Islam, konsep pendidikan masyarakat itu adalah usaha untuk meningkatkan mutu dan kebudayaan agar terhindar dari kebodohan. Usaha-usaha tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai macam kegiatan masyarakat seperti kegiatan keagamaan, pengajian/ ceramah keagamaan, sehingga diharapkan adanya rasa memiliki dari masyarakat akan dapat membawa suatu pembaharuan dimana masyarakat memiliki tanggung jawab terlebih-lebih untuk meningkatkan kwalitas pribadi dibidang Ilmu, ketrampilan, kepekaan perasaan dan kebijaksanan atau dengan perkataan lain peningkatan ketiga wawasan kognitif, afektif maupun psikomotor. [5]
B.     Peran Keluarga, Masyarakat, dan Sekolah Dalam Pendidikan Islam
1.      Peran Keluarga dalam Pendidikan Islam
Perintah untuk mendidik seorang anak agar selamat dari siksaan neraka pertamakali dibebankan kepada keluarga oleh Islam. Hal ini tampak dari firman Allah yang artinya;
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#t
 Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..”( Q.S. Al-Tahrim, 6), ayat ini mewajibkan kepada bangunan rumah tangga untuk mengajarkan suatu kebajikan bagi seorang anak.
Para sosiolog meyakini bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa, sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah unit yang penting sekali dalam masyarakat, Oleh karena itu para sosiolog yakin, segala macam kebobrokan masyarakat merupakan akibat lemahnya institusi keluarga.
Bagi seorang anak keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertunbuhan dan perkembangnnya. Menurut resolusi Majelis Umum PBB, fungsi utama keluarga adalah sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta, memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera”.
Keluarga merupakan tempat yang paling awal dan efektif untuk menjalankan fungsi departemen kesehatan , pendidikan adan kesejahteraan. Jika keluarga gagal untuk megajarkan kejujuran, semangat, keinginan untuk menjadi yang terbaik, dan menguasai kemampuan- kemampuan dasar, maka akan sulit sekali bagoi institusi lain untuk memperbaiki kegagalannya. Karena kagagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang berkarakter buruk atau tidak berkarakter.
Oleh karena itu setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah.Dalam pendidikan Islam agar anak menjadi pribadi yang shaleh, taat beragama perintah pertama Rasulullah adalah menyayangi sang anak, menampakkan wajah segirang kepada anak-anaknya. Sebagainya sabda Rasul, yang artinya “Ya Allah sayangilah keduanya, karena sesungguhnya aku menyayangi keduanya” (HR. Bukhari).
Hadits ini disabdakan oleh Rasulullah ketika beliau memangku usamah bin zaid lalu menudukkannya di atas paha beliau dan menudukkan hasan dipaha lainnya.[6] Menyayangi seorang anak berarti memenuhi semua kebutuhannya baik fisik maupun psikis (kebutuhan jiwa). Orang tua harus mampu mengenali kebutuhan kasih sayang seorang anak dan kebutuhan jiwa mereka baik pada masa kanak-kana atau remaja untuk dapat memberikan bimbingan sebagai bekal masa dewasanya.[7]
Selain diatas, diantara kewajiban kedua orang tua sebagai pendidikan di rumah tangga adalah:
a.       Membiasakan anak supaya mengingat keagungan dan nikmat Allah swt serta menunjukkan dalil-dalil agama.
b.      Menampakkan keteguhan sikap di hadapan anak dalam menghadapi berbagai bencana.
c.       Di dalam keluarga harus terjalin interaksi yang Islami, kondusif, suami-istri tidak tengkar.
d.      Menerapkan budaya yang Islami, seperti membaca al-qur’an, shalat berjamat dan sebagainya.
Ayah, ibu dan anggota keluarga adalah demikian penting dalam proses pembentukan dan pengembangan pribadi. Keluarga wajib berbuat sebagai ajang yang diperlukan sekolah dalam hal melanjutkan pemantapan sosialisasi kognitif. Demikian juga keluarga dapat berperan sebagai sarana pengembangan kawasan afektif dan psikomotor. Dalam keluarga diharapkan berlangsungnya pendidikan yang berfungsi pembentukan kepribadian sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila, dan makhluk keagamaan. [8] 

2.      Peran Masyarakat dalam Pendidikan Islam
Masyarakat sebagai kontrol sosial harus mampu memberikan contoh dan pegangan bagi anak muda yang lemah dalam pengetahuan agama, sosial dan sebagainya. Dan seandainya melihat orang lain melakukan kemungkaran maka hendaknya ia menegurnya.
Didalam pendidikan, masyarakat harus ikut serta dalam mencerdaskan generasi selanjutnya, baik melalui pendidikan di mushalla, penyelenggaraan ceramah atau membangun lembaga sekolah masyarakat. Sekolah masyarakat bisa didirikan berangkat dari asumsi bahwa masyarakat sebagai dasar dari pendidikan dan masyarakat sebagai pendidik (educative agent). Sifat sekolah masyarakat adalah; 1. Mengajarkan anak-anak untuk dapat mengembangkan dan menggunakan sumeber-sumber dari keadaan setempat. 2. Sekolah ini melayani keseluruhan masyarakat, tidak hanya anak-anak. Sehingga nantinya sesuatu yang tidak ada di sekolah formal masyarakat mampu menjelaskannya.
Pendidikan haruslah membuka jiwa manusia terhadap alam jagat dan Penciptanya, terhadap kehidupan dan benda hidup, dan terhadap bangsa-bangsa dan kebudayaan-kebudayaan yang lain. Islam tidak mengenal fanatisme, perbedaan kulit atau sosial, sebab di dalam Islam tidak ada rasialisme, tidak ada perbedaan antara manusia kecuali karena taqwa dan iman. Firman Allah swt:
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ
Wahai manusia, Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya mengenal satu sama lain. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa.(QS. Al-Hujurat: 13)

Jadi pendidikan Islam adalah pendidikan kemanusiaan yang berdiri di atas persaudaraan seiman (tidak ada beda antara orang Arab atau orang ‘Ajam kecuali karena taqwa). Pendidikan Islam adalah pendidikan universal yang diperuntukkan kepada umat manusia seluruhnya.
Pendidikan Islam menginginkan adanya egalitereanisme baik dalam penyelenggaraannya, proses pembelajaran ataupun didalam menerima peserta didik. Didalam pendidkan Islam semua peserta didik sama kedudukannya kecuali taqwa disisi Allah. Masyarakat sebagai kelompok sosial harus mampu menjadi kontrol penyelenggaraan pendidikan di lembagai sekolah. Pendidikan menjadi entitas yang seakan tidak berdiri sendiri. Ia senantiasa berkelindan dan berdialektika dengan dengan konteks sosial masyarakat dan negara. Standart keberhasilan juga tidak akan pernah lepas dari kontribusi kongkrit pendidikan terhadap proyek kebudayaan dan perhelatan akbar sebuah peradaban.
Tidak heran apabila Ahmad Tafsir mengatakan bahwa sekolah adalah miniatur masyarakat atau masyarakat dalam bentuk mini. Jika orang ingin meneropong masyarakat teroponglah sekolahnya. Bila sekolah penuh disiplin, maka masyarakatnya tak jauh beda, dan jika sekolah penuh dengan penipuan, maka penipuan itu juga terjadi dalam masyarakat. Lembaga pendidikan dalam kontek ini seakan menjadi cermin dari sebuah kehidupan masyarakat. Ketika sekolah sudah acuh dengan orang miskin, kaum difabel, maka dapat disimpulkan masyaraktnyapun lebih parah.
Akan tetapi pendidikan Islam menginginkan masyarakat menjadi kontrol terhap penyelenggaraan pendidikan, apakah yang dipraktikkan di sekolah masih sesuai dengan ajarang Islam, jiwa kemanusiaan, dan konsep Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur.
Pendidikan Islam memandang bahwa masyarakat muslim itu satu ikatan dan satu kehidupan. Ini didasarkan pada hadis Rasulullah yang artinya:“engkau melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai dan menyayanginya seperti satu tubuh; jika salah satu anggotanya terserang penyakit maka seluruh tubuh akan tidak dapat tidun dan merasa deman.
Hadits ini mengabarkan kepada sesama umat muslim untuk saling membantu. Implikasi edukatifnya mewajibkan masyarakan untuk membantu saudara seagama yang miskin agar bisa mengenyam pendidikan juga. Bukan sebaliknya, malah melecehka mereka dan memandang mereka sebelah mata.
Disamping sabda Rasul, Allah berfirman di dalam al-qur’an:
Ÿwur öNä3¨ZtB̍øgs ãb$t«oYx© BQöqs% br& öNà2r|¹ Ç`tã ÏÉfó¡yJø9$# ÏQ#tptø:$# br& (#rßtG÷ès? ¢ (#qçRur$yès?ur n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? n?tã ÉOøOM}$# Èbºurôãèø9$#ur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߃Ïx© É>$s)Ïèø9$# ÇËÈ
“… dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (Q.S al-Maidah: 2)
Berdasarkan ayat di atas, pendidikan Islam hendak mengenyampingkan rasa egois dan acuh terhadap kaum lemah. Pendidikan bukan hanya milik mereka yang kaya, yang ber IQ tinggi melainkan juga milik segenap manusia. Konsep pendidiakan Islam selanjutanya adalah tolong menologn antara sesama manusia. Mereka yang terpuruk pendidikan lantaran persoalan ekonomi harus diangkis bareng-bareng oleh masyarakat yang lebih mampu. Sesuai dengan ayat di atas pendidikan Islam hanya mengajarkan kebaikan kepada semua manusia tanpa memandang status sosial.
Kebiasaan hidup sendiri, kapitalisme pendidikan, kriminalitas sudah menjangkit lembaga pendidikan. Banyak lembaga pendidikan yang membuka jurasan baru dan menaikkan biaya pendidikan hanya menuruti kepentingan pasar dan ekonomi. Pendidikan Islam sangat membenci praktik seperti itu, masyarakat diharapkan mampu menjadi kontrol yang kuat terhadap lembaga pendidikan. Dalam proses penyadaran para praktisi pendidikan, masyarakat dapat membuka ruang dialekatika dengan mereka. Selain itu, jika terbuka oknum pendidikan sudah melupakan ajaran Islan, kemanusiaan maka harus disangsi secara moral sebagai cambukan agar tidak diulangi dan teruskan.
3.      Peran Sekolah Dalam Pendidikan Islam
Hasan Langgulung memandang bahwa pendidikan dewasa ini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Untuk itu, ia menawarkan bahwa tindakan yang perlu diambil ialah dengan memformat kurikulum pendidikan Islam dengan format yang lebih integralistik dan bersifat universal. Hasan Langgulung menjabarkan beberapa aspek yang termasuk dalam dasar-dasar pokok pendidikan Islam, yaitu:
a.       Keutuhan (syumuliyah)
Pendidikan Islam haruslah bersifat utuh, artinya memperhatikan segala aspek manusia: badan, jiwa, akal dan rohnya. Pendidikan dalam rangka pengembangan SDM, ditemukan al-Qur.an, menghadapi peserta didiknya dengan seluruh totalitas unsur-unsurnya. Al-Qur.an tidak memisahkan unsur jasmani dan rohani tetapi merangkaikan pembinaan jiwa dan pembinaan akal, sekaligus tidak mengabaikan jasmaninya. Karena itu, seringkali ditemukan uraian-uraiannya disajikan dengan argumentasi logika, disertai sentuhan-sentuhan kepada kalbu. Hal ini merupakan salah satu prinsip utama dalam pengembangan kualitas.
Diharapkan dengan melaksanakan prinsip ini, bukan hanya kesucian jiwa yang diperoleh, tetapi juga pengetahuan yang merangsang kepada daya cipta, karena daya ini dapat lahir dari penyajian materi secara rasional, serta rangsangan pertanyaan-pertanyaan melalui diskusi timbal balik.
b.      Kesinambungan / Keseimbangan
Pendidikan Islam haruslah bersifat kesinambungan dan tidak terpisah-pisah dengan memperhatikan aspek-aspek berikut: 1) Sistem pendidikan itu perlu memberi peluang belajar pada tiap tingkat umur, tingkat persekolahan dan setiap suasana. Dalam Islam tidak boleh ada halangan dari segi umur, pekerjaan, kedudukan, dan lain-lain. 2) Sistem pendidikan Islam itu selalu memperbaharui diri atau dinamis dengan perubahan yang terjadi. Sayyidina Ali r.a. pernah memberikan nasehat: .Ajarkan anak-anakmu ilmu lain dari yang kamu pelajari, sebab mereka diciptakan bagi zaman bukan zamanmu..
c.       Keaslian
Pendidikan Islam haruslah orisinil berdasarkan ajaran Islam seperti yang disimpulkan berikut ini: 1) Pendidikan Islam harus mengambil komponen-komponen, tujuan-tujuan, materi dan metode dalam kurikulumnya dari peninggalan Islam sendiri sebelum ia menyempurnakannya dengan unsur-unsur dari peradaban lain. 2) Haruslah memberi prioritas kepada pendidikan kerohanian yang diajarkan oleh Islam. 3) Pendidikan kerohanian Islam sejati menghendaki agar kita menguasai bahasa Arab, yaitu bahasa al-Qur.an dan Sunnah. 4) Keaslian ini menghendaki juga pengajaran sains dan seni modern dalam suasana perkembangan dimana yang menjadi pedoman adalah aqidah Islam.
d.      Bersifat Ilmiah
Pendidikan Islam haruslah memandang sains dan teknologi sebagai komponen terpenting dari peradaban modern, dan mempelajari sains dan teknologi itu merupakan suatu keniscayaan yang mendesak bagi dunia Islam jika tidak mau ketinggalan .kereta api.. Selanjutnya memberi perhatian khusus ke berbagai sains dan teknik modern dalam kurikulum dan berbagai aktivitas pendidikan, hanya ia harus sejalan dengan semangat Islam.
e.       Bersifat Praktikal
Kurikulum pendidikan Islam tidak hanya bisa bicara secara teoritis saja, namun ia harus bisa dipraktekkan. Karena ilmu tak akan berhasil jika tidak dipraktekkan atau realita. Pendidikan Islam hendaknya memperhitungkan bahwa kerja itu adalah komponen terpenting dalam kehidupan sehari-hari. Kerja itu dianggap ibadah. Jadi pendidikan Islam itu membentuk manusia yang beriman kepada ajaran Islam, melaksanakan dan membelanya, dan agar ia membentuk pekerja produktif dalam bidang ekonomi dan individu yang aktif di masyarakat













BAB III
KESIMPULAN


Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan
1.      Keluarga adalah wadah yang sangat penting di antara individu dan group, dan merupakan kelompok sosial yang pertama di mana anak-anak menjadi anggotanya. Masyarakat adalah  kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama dan sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa (atau “murid”) di bawah pengawasan guru
2.      Konsepsi tripusat pendidikan mencakup pendidikan keluarga, masyarakat dan sekolah
3.      Peningkatan kontribusi dalam perannya masing masing, Keluarga, sekolah, dan masyarakat terhadap perkembangan peserta didik, diprasyaratkan pula keserasian kontribusi ini, serta kerjasama yang erat dan harmonis antar ketiga pusat pendidikan anak tersebut. Berbagai upaya harus dilakukan, program pendidikan dari setiap unsur sumber pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat diharapkan dapat saling mendukung dan memperkuat antara satu dengan yang lainnya. Dengan masing masing peran yang dilakukan dengan baik oleh keluarga, sekolah maupun masyarakat dalam pendidikan, yang saling memperkuat dan saling melengkapi antara ketiga pusat itu, akan memberi peluang besar mewujudkan sumber daya manusia terdidik yang bermutu dan insan shaleh










DAFTAR PUSTAKA

Doni Koesoema A, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman           Global, (Jakarta:Grasindo,2007)
Khairuddin, Sosiologi Keluarga, (Yogyakarta: Nur Cahaya,1985)
Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta:Rineka Cipta,2004) , Cet, Kedua
Zuhairi, dkk, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta:Bumi Aksara, 1992)
Kuntowijoyom, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi, (Bandugn: Mizan, 1991)
Adurrahman an-Nawawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam: Dalam Keluarga, Di      Sekolah dan Di Masyarakat,(Bandung: CV. Dipenogoro,1989) cet. Pertama
Musthafa. Fahri, Kesehatan Jiwa Dalam Keluarga, sekolah, dan Masyarakat, (Jakarta: Bulan        Bintang), jilid I
Imam Barnadib, Pemikiran Tentang Pendidikan Baru, (Yogyakarta:Penerbit Andi Offiset, 1983)




[1]. Doni Koesoema A, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, (Jakarta:Grasindo,2007), hlm.  312
[2] . Khairuddin, Sosiologi Keluarga, (Yogyakarta: Nur Cahaya,1985), hlm. 10
[3] . Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta:Rineka Cipta,2004) , Cet, Kedua, hlm. 108
[4] .  Zuhairi,dkk, Filsafat Pendidikan, hlm. 179
[5] . Kuntowijoyom, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi, (Bandugn: Mizan, 1991), hlm. 228-230

[6] . Adurrahman an-Nawawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam: Dalam Keluarga, Di Sekolah dan Di Masyarakat,(Bandung: CV. Dipenogoro,1989) cet. Pertama, hlm. 201
[7] . Musthafa. Fahri, Kesehatan Jiwa Dalam Keluarga, sekolah, dan Masyarakat, (Jakarta: Bulan Bintang), jilid I. hlm, 54-66
[8] . Imam Barnadib, Pemikiran Tentang Pendidikan Baru, (Yogyakarta:Penerbit Andi Offiset, 1983), hlm. 129-130

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar